Posted in Uncategorized
buat Bode Riswandi
(sebuah sajak temuan)
Datang ke kotamu, di pagi buta
atau malam kelam
sama saja
Kota kecil yang jauh itu,
dimana kutinggalkan
guguran helai rambut
ikalku
dan baris baris sajak
yang berakhir
dengan
tiga tanda titik hitam…
Gerimis selalu turun
di kota kecil itu, selalu
Seperti haiku selalu
tak pernah punya judul,
selalu
Jogja, 2009
Posted in poetry
Haiku
Lumpur menjadi kampung
Menjadi wajah anak anak –
Porong
Posted in poetry
Nama
Di kota ini
cinta bicara
dalam metafora yang berbeda.
Perahu dan bintang di laut malam
adalah sepasang kekasih
yang dipisah semenanjung kecil
penuh nyiur
yang melambai salam perpisahan
dan selamat datang. Hidup cuma
gelombang ombak di pasir pantai,
panjang pendek
tapi tak pernah
meninggalkan karang
tempat camar camar membangun
sarang musim hujannya.
Di antara tetes air hujan
di atap rumah
yang terus menerus
mengingatkan
pada makin larutnya malam
dan suara desir
kipas angin
yang membawa dingin malam
ke dalam rumah, kata kata bergolak
ingin berteriak
ke kaku garis garis
dinding kamar: Berikan aku
metafora
untuk menaklukkan
kebosanan!
Kata kata seperti kucing jantan
sendiri
di bawah wuwungan
rumah
mencari birahi yang lenyap dalam
gelap malam. Sesekali
terdengar lirih keluh kereta api di stasiunnya yang jauh.
Kalau kau mendengar tetes hujan
di atap rumahmu
malam ini, kau rasakankah birahi
malam di kaca jendela
yang berkabut basah?
Suara keluh kereta yang jauh seperti dzikir
doa yang sia sia memberi sepi makna. Malam makin
larut, tetes hujan makin hanyut
dalam birahi kata
yang memanggil manggil
metafora
dalam sebuah nama,
namaMu.
Sisa hujan berhenti
menetes
di atap rumah,
kereta api tak lagi
berkeluh kesah,
tapi malam tak henti berdzikir menyebut namaMu…
Aku mendengar manis suaramu, tapi tak kulihat kau. Aku mencium harum tubuhmu, tapi tak kulihat kau. Aku merasakan hangat napasmu, tapi tak kulihat kau…
Jogja, 2010
Posted in poetry
Lirisisme
bunga gugur, manusia mati
langit dan bumi memang tak punya perasaan
tapi apalah perasaan!
cuma gerimis di bumi,
jatuh dari langit. kadang kau terperangkap di dalamnya,
waktu menunggu bis kota terakhir
sebelum senja tiba.
tak ada apa apa di dalam Rumah Suci!
semua sudah pergi, ke mana kata kata
mencari metaforanya.
ada sebuah memori mungkin,
tentang mekar mawar dan bulan purnama,
tertinggal di kaca jendela
seolah bersaksi
di sini
dulu
memang pernah singgah musim semi!
tapi sekarang
angin pun berhembus kering –
cerita tentang kicau burung di negeri negeri jauh pun tak ada dibawanya.
Jogja 2008
Posted in poetry
Alegori Rima
tuhankah itu yang pura pura jadi hujan biar bisa main dengan saut kecil?
kalau bukan tuhan yang pura pura jadi hujan,
kenapa saut kecil tak takut main sendirian di lapangan tanpa kawan?
hujan reda, tuhan pergi, di lapangan pun saut kecil tak ada lagi.
apakah sekarang Dia di sorga
main hujan berduaan dengan tuhan?
Jogja 2008
Posted in poetry
Metafora Cinta
kalau kau ada di segala tempat dimana aku ada
kenapa masih bertanya akan meleburkan diri
atau menjauh pergi!
malam di sini dingin,
cuma suara angin mempermainkan daunan
dan atap rumah
mengingatkanku
betapa indah cinta yang mampu
membuat melupakan
fana kata kata dan metaforanya.
aku ingin terbakar hangus
sampai mampus
oleh birahi
yang tak putus putus,
di manapun cinta terendus!
aku tak mau
jadi mercusuar
pelayaranmu,
mercusuar yang sendiri
dalam dingin malam malam
kesepiannya,
yang melihat perahumu
menghilang di balik kabut pulau pulau karang
di kaki langit yang jauh
yang tak terjangkau.
aku mau jadi kibar layar
perahu yang membawamu
ke teluk yang paling putih pasirnya
paling lembut lambai nyiurnya,
tanpa mercusuar
penanda
mengintainya
bencana!
aku pun menolak
jadi bintang
penunjuk mata angin
malam malam pelayaranmu,
bintang yang begitu kecil
begitu jauh
dari belai lentik jari jari angin malammu.
kibarkanlah aku
sepenuh tiang
di jantung
perahu
layarmu!
kenapa takut
pada bayang malam
di buih ombak,
pada bayang badai di wajah bulan?
dengarlah nyanyian kibar layar
di seluruh perahu, di angin samudera,
menjanjikan teluk yang paling putih pasirnya
paling lembut lambai nyiurnya,
dengarlah!
Jogja 2008
Posted in poetry
Perahu Mabuk
(antara Aku dan Kau
terbentang samudera
kata kata, o Imajinasi!
di manakah akan Kudapat
perahu mimpi
untuk melayariNya?)
perahu kayu berlayar
di bibirnya dengan kain
layar penuh berkibar…
ahooi pelaut yang mabuk
birahi buih ombak di
laut malam!
kapan pulang
ke muara
yang penuh harum
rindu sungai bening
tempat kekasih mencuci
rambut remajanya!
ahooi suara ombak
yang menampar
perahu! muara sungai
muncul dari
balik kabut
seperti perawan
malu malu
di malam pertama
menyambut!
ahooi!
di sebuah batu karang
dekat garis pantai
yang hitam
di malam yang kelam
terdampar bangkai
seekor camar.
ahooi pelaut yang lupa pulang,
tak ada bulan
jadi mercusuar
jalan pulang
malam ini!
tidurlah di kayu perahu
sambil kau cumbu
bayang kekasih
di kibar layar!
hanya suara anjing
yang melolong
di kejauhan pantai
menemani sang penyair
menghabiskan araknya
di karang yang sekarang
penuh cahya kunang kunang
kehilangan perahu
dan cinta
yang ditelan
metafora muara
kata katanya… ahooi!
Jogja 2008
Posted in poetry
Estetika Alkoholik
arak api, puisi dan gadis
Baturiti, ambooi!
aku hanyutkan birahiKu di
air sungai Apuan
yang mengalir
bening
sampai ke muara mimpiMu,
wahai gadis manis
berkebaya kabut tipis
bukit bukit Tabanan
yang luput dari kanvas Walter Spies!
arak dan puisi
menemaniKu
merindukan alunan mantra
sepasang bahuMu
yang seramping pematang sawah yang baru ditanami
birahi Dewi Sri itu!
aku selalu melihat senyumMu
tiap kali Kuteguk arak api
dalam puisiKu!
Facebook, Feb 2010
Posted in poetry
Dayang Sumbi, Kenapa Kau Tolak CintaKu?
-untuk Acep Zamzam Noor
darah anjing jantan
yang dulu membakar
bawah pusarmu
darah itulah sekarang
membakar bawah pusarKu!
dayang sumbi,
bukankah kulakukan
semua yang kau minta kulakukan!
kutebang hutan rimba
kucipta telaga dari yang tak ada
bahkan kubuatkan kau
perahu kayu
untuk menikmati bening air telaga
sambil kau tenun kain pakaian
untuk anak anak kita!
semua karena cinta!
anjing terkutuk itu
pernahkah berbuat semua ini!
o, bekas luka di kepala,
bekas luka di kepala!
rasa bersalah begitu dalamkah
membuatmu jadi tiba tiba penuh makna!
dayang sumbi, dayang sumbi
darah anjing jantan
yang membakar bawah pusarmu
yang perawan
di sebuah siang yang penuh matahari membosankan
darah terkutuk itulah
sekarang membakar
bawah pusarku yang remaja perjaka!
o, dayang sumbi
o, Ibu
kenapa kau tolak cintaKu?
Jogja, 30 Jan 2008
Posted in poetry
sajak
bunga gugur, manusia mati, langit dan bumi memang tak punya perasaan.
tapi apalah perasaan! cuma gerimis di bumi, jatuh dari langit. kadang kau terperangkap di dalamnya, waktu menunggu bis kota terakhir sebelum senja tiba.
kesedihan kursi kursi kosong di bar ini seperti membawa masuk sepi jalanan malam kota di luar, membuat lagu penyanyi reggae itu seperti tangis duka imigran terdampar di negeri yang tak kenal bahasa ibunya. gadis gadis bar sibuk dengan lipstick dan tubuhnya, menanti para petualang malam yang bakal turun dari neon neon langit malam, menjanjikan cinta duri mawar merah. begitulah gumam sebotol bir kosong di meja di depanku.
aku sedang dipermainkan sepi dan hujan bulan Februari di tengah kota Jakarta yang kehilangan derai tawa gadis gadis manis dari utara. suara hujan di atap hotel dan kipas angin yang bersikeras mengusir nyamuk dan pengap kamar menambah kelam sunyi yang memberat di kusut rambut dan sprei kasur bekas tamu entah semalam.
suara kejam hujan di atap itu membangkitkan birahiKu pada bayang garis tubuh gadis utara yang tak menepati janji menanti di jalan batu kecil sebuah kota tua berkanal hitam sampah seribu malam yang lalu…
perlukah mewarnai malam hijau, kuning atau biru! nikmati saja! karena malam hitam maka bulan & bintang bintang jadi indah, maka kunang kunang pun jadi hidup birahinya & lihatlah! sebuah ekor bintang berkelebat di ujung langit sana! terbakar cakrawala! seperti kunang kunang raksasa mencari kekasihnya! seperti aku mencari harum birahi tubuhMu di jalanan kotaku…
nama nama lalu jadi makam makam, terbuat dari konkrit-semen. dari memori tawa dan tangis yang tak jelas lagi penyebabnya. sementara waktu terus saja membawa kita ke nama nama baru.
biarkan merpati membangun sarangnya di ujung tangga yang menuju ke atap sebelum musim dingin tiba, aku bangun sarangKu di lengkung alis mata cintaMu.
dimana saké hangat mengalir lembut seperti birahi di situlah mekar puisi, dimana birahi mengalir lembut seperti senyuman, seperti cinta…
Posted in poetry
