Posted by: sautsitumorang | October 2, 2009

Posted by: sautsitumorang | October 26, 2009

cinta, dalam retrospektif alkohol akhir tahun

bulan menyinari
tubuh telanjangMu di
kaca jendela
kamar dan Kau
jadi kupu kupu
harum mawar liar
terjerat dalam
pelangi mimpi
sepiKu.
tersenyumlah
pada cicak yang
tidur dalam kelam
rambutMu.

aku minum bir
bersama
purnama. aku di
trotoar jalan, dia
di atas atap
rumah. aku tak
suka pada mereka
yang masuk
menemu malam
dan ribut
menantang bulan.
seorang pelacur
menawarkan
gerhana bulan.

aku merasakan
puting susuMu
menggeliat
menyerah dalam
rangkulan bibir
birahiKu.
rambutKu basah
harum tubuh
telanjangMu.
telaga mawar merah
melati putih
tempat ikan ikan mas
bercanda dengan
bulan perak.
desah rintihMu
membakar cicak
cicak mabuk di
langit kamar.

aku minum sendiri
malam ini. seorang bidadari
kerajaan langit
mencuri
bulan
dan menyembunyikannya
di balik pekat
tirai hujan. aku dan
arakku menggigil
diguyur sepi.

Aku ingin
tersesat
di labirin
birahi garis
tubuhMu, mencari
bulan gerhana
yang hilang di
dataran
ranum perut betinaMu…

seperti perahu kertas
yang dihanyutkan
bocah iseng di
kali itu, seperti
layang layang
yang meliuk di
ujung jari bocah
di tanah lapang itu,
Aku ingin
hanyut mabuk di
musim semi
buah dadaMu. kupu
kupu membuat sarang
di lengkung alisMu
yang basah
keringat mawar
itu.

musim membawa
hujan ke didih
danau, menghalau
debu mengendap
di mata, kenapa
Kau usir dia,
wahai putri
langitKu yang perkasa?

ada kupu kupu
tertegun sepi
menatap kerlip
lampu di alis
hitam malam.
terkenang riang
mekar kelopak
kembang sebelum
badai itu datang,
dulu. angin mati
membuatNya tiba
tiba menggigil.

jogja, 2003

Posted by: sautsitumorang | October 26, 2009

exquisite corpse

buah dadaMu
dan buah dada kanvasku
bertemu dalam birahi
kata kata puisi
penaKu terkapar
kehabisan tinta
alkohol menguap
jadi embun di rumputan
menari bersama kicau burung
di jari jari lentik
cahaya matahari pagi

semua rambut di tubuhku
basah kuyup
oleh kebinalan bulan purnama
di jalanan kota yang sunyi
ditinggalkan memori cinta
dan pengkhianatan

wajahMu adalah
buku
dengan sampul
bercecer cat
mungkin merah mungkin coklat
dan bekas jari masih
basah wangi mimpi
palette

wajahMu terlukis
dalam kalimat kalimat warna
terang benderang
seperti layang layang
di musim hujan
seperti kembang api
di pasar malam

wajahMu
tergantung di dinding kamar
tempat laba laba menyembunyikan
bekas mayat makan malamnya
tempat semut berbaris diagonal
karavan hitam merangkak dari langit di luar
masuk ke dalam mimpi malam di dalam
tempat memori bunuh diri
bersama lapuk kasur dingin
tertutup bayang jendela
berkaca buram

sepotong kepala nyamuk
terseret terantuk di
situ

jogja, september 2002

Posted by: sautsitumorang | October 26, 2009

graffiti cemburu
-eine kleine nachtmusik

aku merindukanMu.

malam di kotaku sesak terhimpit
cahaya bulan tembaga.
layang layang yang dinaikkan
anak anak desa tadi siang
bagai kalong kalong kematian hitam
menganyam bayang bayang panjang
menjerat rumah rumah berlampu tak terang
dan derunya
sampai ke kamarku yang penuh bising nyamuk.
rambut kusutku lengket
di bantal basah keringat
menginginkan goresan ujung kukumu.
Aku ingin tenggelam dalam
ombak birahiMu, badai rinduMu.
para tetangga yang berjudi di kamar sebelah
tertawa pada kartu kartu berwajah sama
tangis anak istrinya –
apa yang sedang kau lakukan malam ini?
malam di kotaku sesak terhimpit
bau knalpot bau asap rokok
dan bulan tembaga yang pucat
berdarah matanya
tertusuk cakar layang layang
yang dibiarkan anak anak desa kelaparan di pekat malam.
betapa ingin kupanggil namaMu!
seperti bocah kecil terjaga
dari kejaran raksasa dalam tidurnya
tapi kamar yang gelap penuh sarang laba laba
telah lama kehilangan suara langkah kaki bunda.

aku merindukanMu
di tengah pengap puntung puntung rokok
dan hujan malam bulan Juni
yang menambah gelisah layang layang raksasa di atas rumah
merindukanMu lewat desah sungai alkohol bening
yang menghanyutkan batu batu hitam masalaluku
daun daun kering luka lukaku.

aku merindukanMu
di pasir putih puri kanak kanakku
patung patung pasir tak berbaju mimpi mimpiku
bagai kupu kupu kecil terbang dari sunyi kepompong mati
Aku menari dalam hujan malam bulan Juni
di bawah panas cahaya bulan tembaga
mengikuti irama deru layang layang raksasa basah
yang tersesat dalam labirin rumah rumah tak terang lampunya
Aku menari dan menari
tanpa suara
hilang dalam pusaran lubuk badai rindu
tak sanggup memanggil namaMu.

malam di kotaKu terpanggang
hangus api cemburu.

denpasar, 9 juni 2001
12:00 am

Posted by: sautsitumorang | October 9, 2009

ibu seorang penyair


ibu yang menangis
menunggu kelahirannya

ibu yang menangis
kesakitan melahirkannya

ibu yang menangis
kepada orang lain memberikannya

ibu yang menangis
merawat luka lukanya

ibu yang menangis
di penjara mengunjunginya

ibu yang menangis
memberangkatkan perantauannya

ibu yang menangis
malam malam merindukannya

ibu yang menangis itu
tak menangis lagi
airmatanya sudah habis

sekarang Dia tidur
di antara rumputan di antara bintang bintang
di langit

Posted by: sautsitumorang | October 9, 2009

kepada P

di kotaku
yang pernah merasakan
panas bibirmu, malam turun
memperkelam segala.
jalanan
cuma aspal hitam
kerontang kehilangan basah
hujan birahi musim.
kata kata pun
menghilang ke bukit tandus

tempat dikubur segala yang mati.

bayang bulan
menambah sunyi malam. tak ada
gonggong anjing yang dulu
mencoba menyesatkan
langkahku dari hangat hitam rambutmu.
cinta dan penyair keduanya
matikah? atau cuma
sekedar rindu?

2007

Posted by: sautsitumorang | October 9, 2009

aku ingin

aku ingin bercinta denganmu
waktu gempa lewat

di kota kita.

saat itu
pasti tak ada
keluh cemas, sinar mata ketakutan
atau gemetar kakimu
yang membuatku termangu,

berbuat apa tak tahu.

aku ingin bercinta denganmu
waktu kematian itu
kembali,

mengusik retak retak lama
di dinding rumah
yang tegak

berusaha tetap gagah.

aku tak ingin
melihat kematian

mempermainkanMu.

Jogja, 9.8.2007

Posted by: sautsitumorang | October 9, 2009

bantul mon amour

di antara reruntuhan
tembok tembok rumah, di ujung
malam yang hampir sudah, kita hanyut
dipacu selingkuh kata kata, seperti bulan
yang melayari tepi purnama di atas kepala. rambut kita
menari sepi di angin perbukitan
yang menyimpan sisa amis darah
& airmata.
lalu laut menyapa
dengan pasir pantai & cemburu
matahari pagi. tak ada suara
burung laut, para pelacur pun
masih di kamarnya bergelut. dalam kabut
alkohol aku biarkan kata kata
menjebakku dalam birahi
rima metafora. kemulusan kulit
kupu kupumu & garis payudaramu
yang remaja membuatku cemburu
pada para dewa yang, bisikmu,
menggilirmu di altar pura mereka. aku menciummu
karena para dewa tidak
memberimu cinta sementara aku
cuma punya kata kata
yang berusaha melahirkan makna.

jogja 2007

Posted by: sautsitumorang | October 9, 2009

27 Mei 2006

aku kehilangan jalan pulang kepadaMu, kekasihku

tikungan jalan dan batu kerikil
yang selalu menyapaku
dengan hangat matahari tropik sore itu
sudah tak ada di tempatnya yang dulu.
begitupun rumah rumah batu sederhana
dan gang kecil berlobang
yang membawaku
ke gairah matamu
yang selalu menunggu
di anak kunci pintu.
anak anak masih ribut
main layangan,
perkutut dan cicakrawa
masih saling tukar nyanyian
tentang kampung halaman

yang hilang dari ingatan…

aku kehilangan jalan pulang kepadamu, kekasihku
dan cuma mampu berdiri
termangu
berusaha membayangkan
senyummu

harum tubuhMu pun hilang
dicuri bumi di subuh khianat itu!

Jogja, 21 Juli 2006

Posted by: sautsitumorang | October 2, 2009

bapa kami yang ada di sorga

di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa di kepalaku ada gempa

Jogjakarta, 4 Februari 2007

Older Posts »

Categories