spring sudah tiba

spring sudah tiba dan jarum kompas

jadi liar dalam gelasnya

waktu perahu kertas yang Kulayarkan

ke utara terbalik menabrak

pelangi tiga warna

 

wajahKu mengeras di cermin kamar mandi

karena jejak kakimu

wahai camar berbulu putih

disembunyikan ombak laut dari

sepasang mataKu yang letih

 

spring sudah tiba dan pohon pohon

di puncak bukit mengibas ngibaskan

debu salju dari alis mereka sementara

dua ekor anak domba

melompat terperanjat melihat

sekuntum mawar

mekar

di sela sela pagar

 

perahu kertasKu yang malang…

 

tapi lihatlah! tiga orang bidadari

turun

dari

pelangi

mereka angkat perahu kertasKu

yang hampir tenggelam itu

dan salju yang mulai mencair

membawa mereka berlayar ke

pinggir

danau

yang

tenang

Published in: on March 26, 2012 at 9:12 pm  Leave a Comment  

buat Bode Riswandi

(sebuah sajak temuan)

 

 

Datang ke kotamu, di pagi buta

atau malam kelam

 

sama saja

 

Kota kecil yang jauh itu,

dimana kutinggalkan

guguran helai rambut

ikalku

 

dan baris baris sajak

yang berakhir

dengan

tiga tanda titik hitam…

 

Gerimis selalu turun

di kota kecil itu, selalu

 

Seperti haiku selalu

tak pernah punya judul,

 

selalu

 

 

Jogja, 2009

 

Published in: on January 3, 2011 at 5:16 am  Leave a Comment  

Haiku

Lumpur menjadi kampung
Menjadi wajah anak anak –
Porong

Published in: on January 3, 2011 at 4:56 am  Leave a Comment  

Nama

Di kota ini

cinta bicara

dalam metafora yang berbeda.

Perahu dan bintang di laut malam

adalah sepasang kekasih

yang dipisah semenanjung kecil

penuh nyiur

yang melambai salam perpisahan

dan selamat datang. Hidup cuma

gelombang ombak di pasir pantai,

panjang pendek

tapi tak pernah

meninggalkan karang

tempat camar camar membangun

sarang musim hujannya.

 

Di antara tetes air hujan

di atap rumah

yang terus menerus

mengingatkan

pada makin larutnya malam

dan suara desir

kipas angin

yang membawa dingin malam

ke dalam rumah, kata kata bergolak

ingin berteriak

ke kaku garis garis

dinding kamar: Berikan aku

metafora

untuk menaklukkan

kebosanan!

 

Kata kata seperti kucing jantan

sendiri

di bawah wuwungan

rumah

mencari birahi yang lenyap dalam

gelap malam. Sesekali

terdengar lirih keluh kereta api di stasiunnya yang jauh.

 

Kalau kau mendengar tetes hujan

di atap rumahmu

malam ini, kau rasakankah birahi

malam di kaca jendela

yang berkabut basah?

 

Suara keluh kereta yang jauh seperti dzikir

doa yang sia sia memberi sepi makna. Malam makin

larut, tetes hujan makin hanyut

dalam birahi kata

yang memanggil manggil

metafora

dalam sebuah nama,

 

namaMu.

 

Sisa hujan berhenti

menetes

di atap rumah,

 

kereta api tak lagi

berkeluh kesah,

 

tapi malam tak henti berdzikir menyebut namaMu…

Aku mendengar manis suaramu, tapi tak kulihat kau. Aku mencium harum tubuhmu, tapi tak kulihat kau. Aku merasakan hangat napasmu, tapi tak kulihat kau…

Jogja, 2010

Published in: on January 3, 2011 at 4:51 am  Leave a Comment  

Lirisisme

bunga gugur, manusia mati

langit dan bumi memang tak punya perasaan

 

tapi apalah perasaan!

cuma gerimis di bumi,

jatuh dari langit. kadang kau terperangkap di dalamnya,

waktu menunggu bis kota terakhir

sebelum senja tiba.

 

tak ada apa apa di dalam Rumah Suci!

semua sudah pergi, ke mana kata kata

mencari metaforanya.

ada sebuah memori mungkin,

tentang mekar mawar dan bulan purnama,

tertinggal di kaca jendela

 

seolah bersaksi

di sini

dulu

memang pernah singgah musim semi!

 

tapi sekarang

angin pun berhembus kering –

 

cerita tentang kicau burung di negeri negeri jauh pun tak ada dibawanya.

 

 

Jogja 2008

 

Published in: on January 3, 2011 at 4:24 am  Leave a Comment  

Alegori Rima

tuhankah itu yang pura pura jadi hujan biar bisa main dengan saut kecil?

kalau bukan tuhan yang pura pura jadi hujan,

kenapa saut kecil tak takut main sendirian di lapangan tanpa kawan?

hujan reda, tuhan pergi, di lapangan pun saut kecil tak ada lagi.

apakah sekarang Dia di sorga

main hujan berduaan dengan tuhan?

Jogja 2008

Published in: on January 3, 2011 at 4:17 am  Leave a Comment  

Metafora Cinta

kalau kau ada di segala tempat dimana aku ada

kenapa masih bertanya akan meleburkan diri

atau menjauh pergi!

 

malam di sini dingin,

cuma suara angin mempermainkan daunan

dan atap rumah

mengingatkanku

betapa indah cinta yang mampu

membuat melupakan

fana kata kata dan metaforanya.

 

aku ingin terbakar hangus

sampai mampus

oleh birahi

yang tak putus putus,

 

di manapun cinta terendus!

 

aku tak mau

jadi mercusuar

pelayaranmu,

mercusuar yang sendiri

dalam dingin malam malam

kesepiannya,

 

yang melihat perahumu

menghilang di balik kabut pulau pulau karang

di kaki langit yang jauh

 

yang tak terjangkau.

 

aku mau jadi kibar layar

perahu yang membawamu

ke teluk yang paling putih pasirnya

 

paling lembut lambai nyiurnya,

 

tanpa mercusuar

penanda

mengintainya

bencana!

 

aku pun menolak

jadi bintang

penunjuk mata angin

malam malam pelayaranmu,

bintang yang begitu kecil

begitu jauh

 

dari belai lentik jari jari angin malammu.

 

kibarkanlah aku

sepenuh tiang

di jantung

perahu

layarmu!

 

kenapa takut

pada bayang malam

di buih ombak,

 

pada bayang badai di wajah bulan?

 

dengarlah nyanyian kibar layar

di seluruh perahu, di angin samudera,

menjanjikan teluk yang paling putih pasirnya

paling lembut lambai nyiurnya,

dengarlah!

 

 

Jogja 2008

 

Published in: on January 3, 2011 at 4:05 am  Leave a Comment  

Perahu Mabuk

(antara Aku dan Kau

terbentang samudera

kata kata, o Imajinasi!

di manakah akan Kudapat

perahu mimpi

untuk melayariNya?)

 

 

perahu kayu berlayar

di bibirnya dengan kain

layar penuh berkibar…

 

ahooi pelaut yang mabuk

birahi buih ombak di

laut malam!

kapan pulang

ke muara

yang penuh harum

rindu sungai bening

tempat kekasih mencuci

rambut remajanya!

 

ahooi suara ombak

yang menampar

perahu! muara sungai

muncul dari

balik kabut

seperti perawan

malu malu

di malam pertama

menyambut!

 

ahooi!

 

di sebuah batu karang

dekat garis pantai

yang hitam

di malam yang kelam

terdampar bangkai

seekor camar.

 

ahooi pelaut yang lupa pulang,

tak ada bulan

jadi mercusuar

jalan pulang

malam ini!

tidurlah di kayu perahu

sambil kau cumbu

bayang kekasih

di kibar layar!

 

hanya suara anjing

yang melolong

di kejauhan pantai

menemani sang penyair

menghabiskan araknya

di karang yang sekarang

penuh cahya kunang kunang

kehilangan perahu

dan cinta

yang ditelan

metafora muara

kata katanya… ahooi!

 

 

Jogja 2008

 

Published in: on January 3, 2011 at 3:58 am  Leave a Comment  

Estetika Alkoholik

arak api, puisi dan gadis

Baturiti, ambooi!

 

aku hanyutkan birahiKu di

air sungai Apuan

yang mengalir

bening

sampai ke muara mimpiMu,

 

wahai gadis manis

berkebaya kabut tipis

bukit bukit Tabanan

yang luput dari kanvas Walter Spies!

 

arak dan puisi

menemaniKu

merindukan alunan mantra

sepasang bahuMu

 

yang seramping pematang sawah yang baru ditanami

birahi Dewi Sri itu!

 

aku selalu melihat senyumMu

tiap kali Kuteguk arak api

dalam puisiKu!

 

 

Facebook, Feb 2010

 

Published in: on January 3, 2011 at 3:50 am  Leave a Comment  

Kenapa Kau Tolak CintaKu, Dayang Sumbi?

-untuk Acep Zamzam Noor

 

 

darah anjing jantan

yang dulu membakar

bawah pusarmu

 

darah itulah sekarang

membakar bawah pusarKu!

 

dayang sumbi,

bukankah kulakukan

semua yang kau minta kulakukan!

kutebang hutan rimba

kucipta telaga dari yang tak ada

bahkan kubuatkan kau

perahu kayu

untuk menikmati bening air telaga

sambil kau tenun kain pakaian

untuk anak anak kita!

semua karena cinta!

 

anjing terkutuk itu

pernahkah berbuat semua ini!

 

 

o, bekas luka di kepala,

bekas luka di kepala!

rasa bersalah begitu dalamkah

membuatmu jadi tiba tiba penuh makna!

 

dayang sumbi, dayang sumbi

darah anjing jantan

yang membakar bawah pusarmu

yang perawan

di sebuah siang yang penuh matahari membosankan

 

darah terkutuk itulah

sekarang membakar

bawah pusarku yang remaja perjaka!

 

o, dayang sumbi

o, Ibu

kenapa kau tolak cintaKu?

 

 

Jogja, 30 Jan 2008

 

Published in: on January 3, 2011 at 3:38 am  Comments (1)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: