Nama
Di kota ini
cinta bicara
dalam metafora yang berbeda.
Perahu dan bintang di laut malam
adalah sepasang kekasih
yang dipisah semenanjung kecil
penuh nyiur
yang melambai salam perpisahan
dan selamat datang. Hidup cuma
gelombang ombak di pasir pantai,
panjang pendek
tapi tak pernah
meninggalkan karang
tempat camar camar membangun
sarang musim hujannya.
Di antara tetes air hujan
di atap rumah
yang terus menerus
mengingatkan
pada makin larutnya malam
dan suara desir
kipas angin
yang membawa dingin malam
ke dalam rumah, kata kata bergolak
ingin berteriak
ke kaku garis garis
dinding kamar: Berikan aku
metafora
untuk menaklukkan
kebosanan!
Kata kata seperti kucing jantan
sendiri
di bawah wuwungan
rumah
mencari birahi yang lenyap dalam
gelap malam. Sesekali
terdengar lirih keluh kereta api di stasiunnya yang jauh.
Kalau kau mendengar tetes hujan
di atap rumahmu
malam ini, kau rasakankah birahi
malam di kaca jendela
yang berkabut basah?
Suara keluh kereta yang jauh seperti dzikir
doa yang sia sia memberi sepi makna. Malam makin
larut, tetes hujan makin hanyut
dalam birahi kata
yang memanggil manggil
metafora
dalam sebuah nama,
namaMu.
Sisa hujan berhenti
menetes
di atap rumah,
kereta api tak lagi
berkeluh kesah,
tapi malam tak henti berdzikir menyebut namaMu…
Aku mendengar manis suaramu, tapi tak kulihat kau. Aku mencium harum tubuhmu, tapi tak kulihat kau. Aku merasakan hangat napasmu, tapi tak kulihat kau…
Jogja, 2010