bantul mon amour

di antara reruntuhan

tembok tembok rumah, di ujung

malam yang hampir sudah, kita hanyut

dipacu selingkuh kata kata, seperti bulan

yang melayari tepi purnama di atas kepala. rambut kita

menari sepi di angin perbukitan

yang menyimpan sisa amis darah

& airmata.

lalu laut menyapa

dengan pasir pantai & cemburu

matahari pagi. tak ada suara

burung laut, para pelacur pun

masih di kamarnya bergelut. dalam kabut

alkohol aku biarkan kata kata

menjebakku dalam birahi

rima metafora. kemulusan kulit

kupu kupumu & garis payudaramu

yang remaja membuatku cemburu

pada para dewa yang, bisikmu,

menggilirmu di altar pura mereka. aku menciummu

karena para dewa tidak

memberimu cinta sementara aku

cuma punya kata kata

yang berusaha melahirkan makna.

 

jogja 2007

 

Published in: on October 9, 2009 at 12:20 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://sautsitumorang.wordpress.com/2009/10/09/83/trackback/

%d bloggers like this: