Metafora Cinta

kalau kau ada di segala tempat dimana aku ada

kenapa masih bertanya akan meleburkan diri

atau menjauh pergi!

 

malam di sini dingin,

cuma suara angin mempermainkan daunan

dan atap rumah

mengingatkanku

betapa indah cinta yang mampu

membuat melupakan

fana kata kata dan metaforanya.

 

aku ingin terbakar hangus

sampai mampus

oleh birahi

yang tak putus putus,

 

di manapun cinta terendus!

 

aku tak mau

jadi mercusuar

pelayaranmu,

mercusuar yang sendiri

dalam dingin malam malam

kesepiannya,

 

yang melihat perahumu

menghilang di balik kabut pulau pulau karang

di kaki langit yang jauh

 

yang tak terjangkau.

 

aku mau jadi kibar layar

perahu yang membawamu

ke teluk yang paling putih pasirnya

 

paling lembut lambai nyiurnya,

 

tanpa mercusuar

penanda

mengintainya

bencana!

 

aku pun menolak

jadi bintang

penunjuk mata angin

malam malam pelayaranmu,

bintang yang begitu kecil

begitu jauh

 

dari belai lentik jari jari angin malammu.

 

kibarkanlah aku

sepenuh tiang

di jantung

perahu

layarmu!

 

kenapa takut

pada bayang malam

di buih ombak,

 

pada bayang badai di wajah bulan?

 

dengarlah nyanyian kibar layar

di seluruh perahu, di angin samudera,

menjanjikan teluk yang paling putih pasirnya

paling lembut lambai nyiurnya,

dengarlah!

 

 

Jogja 2008

 

Published in: on January 3, 2011 at 4:05 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://sautsitumorang.wordpress.com/2011/01/03/147/trackback/

%d bloggers like this: