sajak

bunga gugur, manusia mati, langit dan bumi memang tak punya perasaan.

tapi apalah perasaan! cuma gerimis di bumi, jatuh dari langit. kadang kau terperangkap di dalamnya, waktu menunggu bis kota terakhir sebelum senja tiba.

kesedihan kursi kursi kosong di bar ini seperti membawa masuk sepi jalanan malam kota di luar, membuat lagu penyanyi reggae itu seperti tangis duka imigran terdampar di negeri yang tak kenal bahasa ibunya. gadis gadis bar sibuk dengan lipstick dan tubuhnya, menanti para petualang malam yang bakal turun dari neon neon langit malam, menjanjikan cinta duri mawar merah. begitulah gumam sebotol bir kosong di meja di depanku.

aku sedang dipermainkan sepi dan hujan bulan Februari di tengah kota Jakarta yang kehilangan derai tawa gadis gadis manis dari utara. suara hujan di atap hotel dan kipas angin yang bersikeras mengusir nyamuk dan pengap kamar menambah kelam sunyi yang memberat di kusut rambut dan sprei kasur bekas tamu entah semalam.

suara kejam hujan di atap itu membangkitkan birahiKu pada bayang garis tubuh gadis utara yang tak menepati janji menanti di jalan batu kecil sebuah kota tua berkanal hitam sampah seribu malam yang lalu…

perlukah mewarnai malam hijau, kuning atau biru! nikmati saja! karena malam hitam maka bulan & bintang bintang jadi indah, maka kunang kunang pun jadi hidup birahinya & lihatlah! sebuah ekor bintang berkelebat di ujung langit sana! terbakar cakrawala! seperti kunang kunang raksasa mencari kekasihnya! seperti aku mencari harum birahi tubuhMu di jalanan kotaku…

nama nama lalu jadi makam makam, terbuat dari konkrit-semen. dari memori tawa dan tangis yang tak jelas lagi penyebabnya. sementara waktu terus saja membawa kita ke nama nama baru.

biarkan merpati membangun sarangnya di ujung tangga yang menuju ke atap sebelum musim dingin tiba, aku bangun sarangKu di lengkung alis mata cintaMu.

dimana saké hangat mengalir lembut seperti birahi di situlah mekar puisi, dimana birahi mengalir lembut seperti senyuman, seperti cinta…

Advertisements
Published in: on February 8, 2010 at 4:07 am  Leave a Comment  

karena laut, sungai lupa jalan pulang

di kota kecil itu

gerimis turun

dan kita basah

oleh senyum dan tatapan tatapan curian

yang tiba tiba mekar jadi ciuman ciuman panjang…

 

karena laut, sungai lupa jalan pulang

dan batu batu hitam

daun daun gugur

danau kecil di lembah jauh

jadi sunyi

kehilangan suara jangkrik suara burung

 

gerimis yang turun

mengikuti terus

di jalan jalan gunung

pasar hiruk pikuk

bis antar kota

pertunjukan pertunjukan malam yang membosankan

sampai botol botol bir kosong

tempat lampu neon berdustaan dengan bau tembakau

 

karena laut, sungai lupa jalan pulang

dan di meja-warung basah oleh gerimis

sebuah sajak setengah jadi

mengabur di kertas tissue yang tipis

 

1997

 

Published in: on February 8, 2010 at 3:56 am  Leave a Comment  

cinta, dalam retrospektif alkohol akhir tahun

bulan menyinari
tubuh telanjangMu di
kaca jendela
kamar dan Kau
jadi kupu kupu
harum mawar liar
terjerat dalam
pelangi mimpi
sepiKu.
tersenyumlah
pada cicak yang
tidur dalam kelam
rambutMu.

aku minum bir
bersama
purnama. aku di
trotoar jalan, dia
di atas atap
rumah. aku tak
suka pada mereka
yang masuk
menemu malam
dan ribut
menantang bulan.
seorang pelacur
menawarkan
gerhana bulan.

aku merasakan
puting susuMu
menggeliat
menyerah dalam
rangkulan bibir
birahiKu.
rambutKu basah
harum tubuh
telanjangMu.
telaga mawar merah
melati putih
tempat ikan ikan mas
bercanda dengan
bulan perak.
desah rintihMu
membakar cicak
cicak mabuk di
langit kamar.

aku minum sendiri
malam ini. seorang bidadari
kerajaan langit
mencuri
bulan
dan menyembunyikannya
di balik pekat
tirai hujan. aku dan
arakku menggigil
diguyur sepi.

Aku ingin
tersesat
di labirin
birahi garis
tubuhMu, mencari
bulan gerhana
yang hilang di
dataran
ranum perut betinaMu…

seperti perahu kertas
yang dihanyutkan
bocah iseng di
kali itu, seperti
layang layang
yang meliuk di
ujung jari bocah
di tanah lapang itu,
Aku ingin
hanyut mabuk di
musim semi
buah dadaMu. kupu
kupu membuat sarang
di lengkung alisMu
yang basah
keringat mawar
itu.

musim membawa
hujan ke didih
danau, menghalau
debu mengendap
di mata, kenapa
Kau usir dia,
wahai putri
langitKu yang perkasa?

ada kupu kupu
tertegun sepi
menatap kerlip
lampu di alis
hitam malam.
terkenang riang
mekar kelopak
kembang sebelum
badai itu datang,
dulu. angin mati
membuatNya tiba
tiba menggigil.

jogja, 2003

 

Published in: on October 26, 2009 at 2:31 am  Leave a Comment  

exquisite corpse

buah dadaMu

dan buah dada kanvasku

bertemu dalam birahi

kata kata puisi

penaKu terkapar

kehabisan tinta

alkohol menguap

jadi embun di rumputan

menari bersama kicau burung

di jari jari lentik

cahaya matahari pagi

 

semua rambut di tubuhku

basah kuyup

oleh kebinalan bulan purnama

di jalanan kota yang sunyi

ditinggalkan memori cinta

dan pengkhianatan

 

wajahMu adalah

buku

dengan sampul

bercecer cat

mungkin merah mungkin coklat

dan bekas jari masih

basah wangi mimpi

palette

 

wajahMu terlukis

dalam kalimat kalimat warna

terang benderang

seperti layang layang

di musim hujan

seperti kembang api

di pasar malam

 

wajahMu

tergantung di dinding kamar

tempat laba laba menyembunyikan

bekas mayat makan malamnya

tempat semut berbaris diagonal

karavan hitam merangkak dari langit di luar

masuk ke dalam mimpi malam di dalam

tempat memori bunuh diri

bersama lapuk kasur dingin

tertutup bayang jendela

berkaca buram

 

sepotong kepala nyamuk

terseret terantuk di

situ

 

 

jogja, september 2002

 

Published in: on October 26, 2009 at 2:02 am  Leave a Comment  

graffiti cemburu

-eine kleine nachtmusik

aku merindukanMu.

malam di kotaku sesak terhimpit
cahaya bulan tembaga.
layang layang yang dinaikkan
anak anak desa tadi siang
bagai kalong kalong kematian hitam
menganyam bayang bayang panjang
menjerat rumah rumah berlampu tak terang
dan derunya
sampai ke kamarku yang penuh bising nyamuk.
rambut kusutku lengket
di bantal basah keringat
menginginkan goresan ujung kukumu.
Aku ingin tenggelam dalam
ombak birahiMu, badai rinduMu.
para tetangga yang berjudi di kamar sebelah
tertawa pada kartu kartu berwajah sama
tangis anak istrinya –
apa yang sedang kau lakukan malam ini?
malam di kotaku sesak terhimpit
bau knalpot bau asap rokok
dan bulan tembaga yang pucat
berdarah matanya
tertusuk cakar layang layang
yang dibiarkan anak anak desa kelaparan di pekat malam.
betapa ingin kupanggil namaMu!
seperti bocah kecil terjaga
dari kejaran raksasa dalam tidurnya
tapi kamar yang gelap penuh sarang laba laba
telah lama kehilangan suara langkah kaki bunda.

aku merindukanMu
di tengah pengap puntung puntung rokok
dan hujan malam bulan Juni
yang menambah gelisah layang layang raksasa di atas rumah
merindukanMu lewat desah sungai alkohol bening
yang menghanyutkan batu batu hitam masalaluku
daun daun kering luka lukaku.

aku merindukanMu
di pasir putih puri kanak kanakku
patung patung pasir tak berbaju mimpi mimpiku
bagai kupu kupu kecil terbang dari sunyi kepompong mati
Aku menari dalam hujan malam bulan Juni
di bawah panas cahaya bulan tembaga
mengikuti irama deru layang layang raksasa basah
yang tersesat dalam labirin rumah rumah tak terang lampunya
Aku menari dan menari
tanpa suara
hilang dalam pusaran lubuk badai rindu
tak sanggup memanggil namaMu.

malam di kotaKu terpanggang
hangus api cemburu.

denpasar, 9 juni 2001
12:00 am

 

Published in: on October 26, 2009 at 1:56 am  Leave a Comment  

ibu seorang penyair

ibu yang menangis
menunggu kelahirannya

ibu yang menangis
kesakitan melahirkannya

ibu yang menangis
kepada orang lain memberikannya

ibu yang menangis
merawat luka lukanya

ibu yang menangis
di penjara mengunjunginya

ibu yang menangis
memberangkatkan perantauannya

ibu yang menangis
malam malam merindukannya

ibu yang menangis itu
tak menangis lagi
airmatanya sudah habis

sekarang Dia tidur
di antara rumputan di antara bintang bintang
di langit

Published in: on October 9, 2009 at 12:49 pm  Leave a Comment  

kepada P

di kotaku

yang pernah merasakan

panas bibirmu, malam turun

memperkelam segala.

jalanan

cuma aspal hitam

kerontang kehilangan basah

hujan birahi musim.

kata kata pun

menghilang ke bukit tandus

 

tempat dikubur segala yang mati.

 

bayang bulan

menambah sunyi malam. tak ada

gonggong anjing yang dulu

mencoba menyesatkan

langkahku dari hangat hitam rambutmu.

cinta dan penyair keduanya

matikah? atau cuma

sekedar rindu?

 

2007

 

Published in: on October 9, 2009 at 12:25 pm  Leave a Comment  

aku ingin

aku ingin bercinta denganmu

waktu gempa lewat

 

di kota kita.

 

saat itu

pasti tak ada

keluh cemas, sinar mata ketakutan

atau gemetar kakimu

yang membuatku termangu,

 

berbuat apa tak tahu.

 

aku ingin bercinta denganmu

waktu kematian itu

kembali,

 

mengusik retak retak lama

di dinding rumah

yang tegak

 

berusaha tetap gagah.

 

aku tak ingin

melihat kematian

 

mempermainkanMu.

 

 

Jogja, 9.8.2007

 

Published in: on October 9, 2009 at 12:22 pm  Leave a Comment  

bantul mon amour

di antara reruntuhan

tembok tembok rumah, di ujung

malam yang hampir sudah, kita hanyut

dipacu selingkuh kata kata, seperti bulan

yang melayari tepi purnama di atas kepala. rambut kita

menari sepi di angin perbukitan

yang menyimpan sisa amis darah

& airmata.

lalu laut menyapa

dengan pasir pantai & cemburu

matahari pagi. tak ada suara

burung laut, para pelacur pun

masih di kamarnya bergelut. dalam kabut

alkohol aku biarkan kata kata

menjebakku dalam birahi

rima metafora. kemulusan kulit

kupu kupumu & garis payudaramu

yang remaja membuatku cemburu

pada para dewa yang, bisikmu,

menggilirmu di altar pura mereka. aku menciummu

karena para dewa tidak

memberimu cinta sementara aku

cuma punya kata kata

yang berusaha melahirkan makna.

 

jogja 2007

 

Published in: on October 9, 2009 at 12:20 pm  Leave a Comment  

27 Mei 2006

aku kehilangan jalan pulang kepadaMu, kekasihku

 

tikungan jalan dan batu kerikil

yang selalu menyapaku

dengan hangat matahari tropik sore itu

sudah tak ada di tempatnya yang dulu.

begitupun rumah rumah batu sederhana

dan gang kecil berlobang

yang membawaku

ke gairah matamu

yang selalu menunggu

di anak kunci pintu.

anak anak masih ribut

main layangan,

perkutut dan cicakrawa

masih saling tukar nyanyian

tentang kampung halaman

 

yang hilang dari ingatan…

 

aku kehilangan jalan pulang kepadamu, kekasihku

dan cuma mampu berdiri

termangu

berusaha membayangkan

senyummu

 

harum tubuhMu pun hilang

dicuri bumi di subuh khianat itu!

 

Jogja, 21 Juli 2006

 

Published in: on October 9, 2009 at 12:16 pm  Leave a Comment  
%d bloggers like this: